Mengembalikan jati diri karnaval sebagai perayaan budaya, seni, tradisi, dan kepedulian terhadap lingkungan, menjadi semangat Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan atau PEKA di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, Jember.
Sekitar 2.000 warga dari 15 RW dan 68 RT ambil bagian dalam pawai budaya yang digelar di Jalan Branjangan, Minggu (27/9/26). Pawai ini tidak menggunakan pengeras suara berdaya tinggi atau sound horeg, namun mengedepankan seni tradisi sekaligus edukasi kepada masyarakat.
Festival PEKA diinisiasi Yayasan Nara Bestari dengan dukungan Kementerian Kebudayaan dan LPDP, mengusung semangat Seni yang Ramah Bumi.
Pengelola Yayasan Nara Bestari, Hadi Purnomo, mengatakan, karnaval ini menjadi respons atas keresahan masyarakat terhadap pergeseran nilai-nilai budaya dalam penyelenggaraan karnaval. Melalui kegiatan ini, karnaval dihadirkan kembali sebagai hiburan publik yang edukatif, inspiratif, dan tetap berpijak pada budaya lokal.
Sekitar 40 kafilah menampilkan beragam kesenian tradisional Jember, mulai dari musik patrol, glundeng, gamelan, pencak silat, tari tradisional, jaranan hingga penari kunang-kunang.
Unsur ekologi juga menjadi bagian penting dalam pawai. Anak-anak tampil mengenakan kostum bertema alam sambil membawa poster berisi pesan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan kebudayaan.
Kunang-kunang dipilih sebagai simbol yang menggambarkan keterkaitan antara kelestarian alam dan kehidupan budaya. Melalui simbol tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa alam dan kebudayaan membutuhkan ruang untuk tumbuh dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Festival PEKA diharapkan dapat menjadi contoh bahwa karnaval tidak sekadar tontonan, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi masyarakat sekaligus perayaan budaya yang menghidupkan seni, menjaga tradisi, dan peduli terhadap ekologi.(thn)
Copyright © 2024 K Radio Jember 102,9 FM Developed by Sevenlight.ID.