Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember menggelar Musyawarah Daerah XI yang dipusatkan di kampus Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Sabtu (4/4/26).
Forum ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran MUI sebagai rujukan dan kompas kehidupan beragama di tengah masyarakat.
Musda yang berlangsung di UIN KHAS Jember ini dihadiri para ulama, tokoh agama, serta aktivis dalam kepengurusan MUI Jember. Kebersamaan ini memperkuat komitmen menjaga arah kehidupan keagamaan umat.
Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni, menegaskan MUI harus menjadi obor atau penerang kehidupan sekaligus kompas bagi masyarakat. Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi, peran tersebut semakin dibutuhkan.
Ia menambahkan, MUI harus bersikap tegas. Sebab saat ini, arus viral dinilai lebih cepat menyebar dibandingkan nilai moral di tengah masyarakat. Karena itu, MUI harus hadir memberi arah kehidupan yang jelas.
Hepni juga menyampaikan tiga pesan penting bagi MUI Jember ke depan. Pertama, menjaga eksistensi. Kedua, memiliki daya tahan atau resiliensi. Dan ketiga, terus melakukan pengembangan. Menurutnya, eksis saja tidak cukup. MUI harus mampu adaptif menghadapi perubahan.
Ia menegaskan, dalam menjalankan peran, MUI harus tetap kokoh dalam prinsip, namun fleksibel dalam pendekatan. Dengan begitu, MUI dapat terus relevan di tengah dinamika masyarakat.
Sementara itu, Ketua MUI Jember, Kiyai Abdul Haris, menekankan independensi sebagai syarat utama agar MUI tetap dipercaya umat. Setiap fatwa, kata dia, harus bebas dari pengaruh pihak manapun dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Ke depan, MUI Jember akan mendorong implementasi fatwa melalui koordinasi aktif dengan berbagai pihak. Ia juga berharap kepemimpinan MUI selanjutnya mampu menjaga soliditas internal, sehingga tetap optimal dalam melayani umat di tengah berbagai keterbatasan.(thn)
Copyright © 2024 K Radio Jember 102,9 FM Developed by Sevenlight.ID.